Friday, June 5, 2015

Mudik, ekspatriat justru 'linglung'


Mudik, ekspatriat justru 'linglung'


Pesawat
Bagi sebagian ekspatriat, pulang kampung ternyata tidak selalu mengenakkan
Selai kacang, marmite, ikan dan kentang goreng, teh celup, broerwurst (sosis khas Jerman berukuran besar)... ini hanyalah beberapa dari deretan makanan yang dirindukan ekspatriat setelah mereka ditempatkan di luar negeri.
Nostalgia ini biasa lazim terjadi ketika orang pindah ke luar negeri.
Yang tidak terlalu diharapkan, kendati demikian, adalah rasa terkejut yang dialami ekspatriat ketika pulang kampung dan menyadari kondisinya tidak seperti ketika ditinggalkan.
Secara mengejutkan, banyak ekspatriat kesulitan menyesuaikan diri dan memahami lingkungan yang telah berubah sejak mereka merantau.
Lantas bagaimana mereka menyesuaikan diri? Kami membuka situs tanya jawab Quora untuk mengetahui beberapa saran praktis bagi ekspatriat jangka panjang yang pulang ke negara asal.
Gwen Sawchuk merekomendasikan kepada ekspatriat yang hendak pulang untuk membeli rumah di negara asal ketika masih tinggal di luar negeri dan menghabiskan waktu di sana selama liburan.
”Dengan cara ini, Anda menjalin hubungan dengan masyarakat di sana,” tulis Sawchuk. “Dan ketika Anda pergi ke sana untuk menetap, akan terasa seperti rumah sendiri.”
Sawchuk juga menyarankan integrasi dengan mengikuti kursus-kursus atau “carilah pekerjaan paruh waktu, menjadi relawan, apa pun yang dapat dilakukan agar bisa bertemu dengan orang sebanyak mungkin.”
“Jangan cepat-cepat menceritakan tempat-tempat yang telah Anda kunjungi, apa yang telah Anda lakukan dan sebagainya. Itu membuat orang kewalahan ... ini akan menjauhkan orang,” tulisnya.
“Bersikap biasa saja, buat seperti kencan, berikan informasi secara sangat pelan-pelan.”
Ia memperingatkan kepada para ekspatriat bahwa mungkin mereka kesulitan menyesuaikan diri pada tahap awal.
“Tergantung pada Anda untuk beradaptasi,” kata Sawchuk dalam tulisannya.
Daripada pulang ke kota asal, mungkin adalah langkah bijak untuk mempertimbangkan tinggal di tempat lain yang banyak penduduknya tinggal di sana hanya untuk sementara, “di mana warga lebih terbiasa dengan orang-orang baru,” demikian saran Sawchuk.
Laura Hale, yang telah tinggal di lima negara berbeda, memberikan saran sederhana ini bagi mereka yang pulang kampung.
“Pastikan Anda mempunyai pola pikir sama ketika Anda dulu pindah ke negara lain dan buat rencana sesuai dengan pola pikir itu,” tulis Hale.
Ekspatriat harus siap menghadapi gegar budaya, merasa terisoliasi sebentar dan mengalami kesulitan tentang bagaimana sistem yang ada berfungsi, katanya.
Jangan pulang dengan harapan bahwa rumah Anda akan sama seperti ketika ditinggalkan, kata seorang insinyur, Don Merritt.
“Banyak hal berubah, teman-teman sudah pindah. Kepulangan Anda mungkin sama sulitnya ketika Anda pindah ke luar negeri. “Ini diperparah oleh gagasan yang mungkin timbul bahwa segala sesuatunya akan sama.”
Bagi mereka yang kembali ke Barat dari Cina, transisi itu khususnya bisa lebih sulit.
Elliott Chen menulis bahwa, baginya, kembali ke Amerika Serikat sangat sulit untuk menyesuikan diri.
“Ketika saya tinggal di Cina, jika saya mengalami situasi yang tak mengenakkan atau mengganggu, setidaknya saya dapat mengatakan kepada diri saya sendiri bahwa itu karena kejanggalan budaya, mendapatinya justru menarik dan pelik,” tulisnya.
“Di Amerika, saya tidak mempunyai ilusi itu lagi.”
Ia menyebut penyeteril tangan, percakapan tentang kegilaan terhadap olahraga baru, olahraga fantasi, pertandingan basket Super Bowls dan investasi perumahan merupakan sebagian topik yang mendongkolkan.
Chen berpendapat hari-hari belakangan negaranya menerapkan banyak pembatasan dan terlalu diatur “di mana orang bisa menghisap rokok?!”
Kadang-kadang komunikasi dasar dapat menjadi persoalan, seperti yang dialami Matt Schiavenza.
“Banyak kata dan istilah gaul yang masuk ke kamus ketika saya tinggal di luar negeri, berlalu begitu saja,” tulisnya.
“Saya tidak tahu jika kita harus membayar tunai ketika membeli barang di Craigslist. Saya menunjukkan ketakjuban bagaikan anak-anak ketika melihat perlengkapan umum seperti oven konvensi dan pengering baju.”
Pada tahun pertama kepulangannya di New York, Schiavenza mulai amat merindukan Cina.
“Saya mencari teman-teman Cina dan mengikuti beragam kegiatan yang berbau Cina di Universitas Columbia dan bahkan mempunyai kekasih Cina. Saya menggerutu tentang betapa mahal barang-barang di New York dan betapa sulit dan menyita waktu untuk mengonsumsi makanan sehat,” kata Schiavenza.
Pada akhirnya apa yang "mendobrak kemagisan" adalah kembali ke Beijing untuk liburan musim panas.
“Banyak hal yang semula saya anggap menarik tentang Cina tampak sirna,” tulisnya. “Dan saya mendapati saya frustrasi dengan banyak hal: koneksi internet lambat, pengemudi taksi nakal, keracunan makanan, yang sudah biasa sebelumnya.”
Jim Broiles yang bekerja di industri teknologi, pulang ke California setelah hanya empat bulan di Cina.
Pada mulanya ia suka melihat langit biru dan mengemudi di jalan dengan lalu lintas teratur. “Namun itu terasa hidup di kota hantu. Kami merasa terkucil dan bosan. Makanannya membosankan. Belanja juga bosan. Tidak ada orang. Tidak ada orang untuk diamati raut mukanya dan tidak ada kemanusiaan untuk dialami di setiap jengkal ruang kehidupan,” tuturnya.
Broiles mengatakan di tempat kerja, laju kemajuan terasa seperti orang-orang bergerak melewati “lautan tetes tebu”.
Ia merasa seolah-olah bergerak cepat tanpa menggunakan tenaga, “tetapi sejatinya saya sangat produktif dan mengalami salah satu tahun terbaik. Ini adalah perusahaan teknologi Silicon Valley, jadi bukan tipe perusahaan yang lamban. Mungkin hal itu dapat memberikan gambaran tentang perbedaan relatif dengan Cina.”
Responden Quora diharuskan menggunakan nama sebenarnya berdasarkan kebijakan situs Real Names. Untuk membantu memastikan legitimasi dan kualitas, Quora meminta beberapa individu seperti para dokter dan pengacara untuk membuktikan keahlian mereka

No comments:

Post a Comment